Senin, 21 November 2011

Jessie J

Hell yeah, people talked about her alot even before her very first single had been released. Media menamainya Sound of 2011. Penghargaan musik menganugerahinya Critics’ Choice Award. Dan kemudian, setiap orang merasa ingin kenal dengan cewek yang satu ini. Beruntungnya kamu yang langganan berkunjung ke CreativeDisc.Com, karena bulan Mei ini kami akan menggriring kalian semua untuk lebih akrab dengan penyanyi yang dimaksud. Dialah Jessie Ellen Cornish, alias Jessie J.
Di masa-masa sekarang, saat sajian musik tak hanya berupa suara yang menggugah dan musik yang super catchy, tapi tampilan yang stand out juga menjadi penunjang popularitas, maka artis-artis pendatang baru punya tantangan ekstra dalam persaingan musik yang sengit saat ini. Jessie J menjawab tantangan zaman tadi dengan membuat debutnya di industri rekaman, setelah sebelumnya merasa matang dengan persiapan yang dilakukannya selama masa remaja bergabung dengan sebuah grup vokal, menjadi penyanyi latar untuk Cyndi Lauper, hingga menjadi penulis lagu untuk artis lain seperti Chris Brown dan Miley Cyrus. Tapi jangan kita jalannya dalam hidup ini begitu mulusnya, karena Jessie juga pernah mengalami hal-hal buruk, seperti serangan stroke ringan saat berusia 18 tahun, juga perusahaan rekaman yang menontraknya, Gut Records mengalami kebankrutan sehingga impiannya menjadi artis rekaman terpaksa tertunda. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Dan Jessie mengambil hikmah tersebut sebagai persiapan fisik dan mental untuk debut albumnya “Who You Are”, yang selama 6 tahun belakangan adalah fokus utamanya dalam hidup.
Senyumnya boleh terkembang saat di penghujung tahun 2010 kemarin single perdananya rilis di Inggris. ‘Do It Like A Dude’ menyuarakan pemberdayaan perempuan, tersaji dalam tampilan apik di musik, kuat di vokal, dan unik di tampilan video. Ini adalah peluncur karir yang meroket di negeri sendiri, sekaligus penakar antusiasme pasar terhadap musiknya. Makanya, saat single ‘Price Tag’ yang menampilkan rapper B.o.B diluncurkan, dunia siap menyambutnya, dan kesuksesan besar Jessie J pun dimulai. Single ini mengajak kita untuk enggak terlalu serius dalam menanggapi segala hal dan mengajak untuk sejenak bersenang-senang tanpa pamrih. Semangat positif dalam lagu-lagu Jessie secara maksimal bisa kita nikmati di debut albumnya. Mungkin itu yang membuat para music director film suka dengan karyanya dan memasukkan lagu-lagu Jessie ke dalam film mereka. ‘Who You Are’ ada di film “Step Up 3D” dan ‘Sexy Silk’ di film “Easy A”. Semua keranjingan Jessie J.
BBC menobatkannya sebagai Sound Of 2011, BRIT Awards untuk Critics’ Choice tahun 2011 dimenangkannya, dan MTV Brand New 2011 memposisikannya di nomor 2 untuk Next Big Thing, dan kita tentu enggak mau ketinggalan dengan menobatkannya sebagai Artist of The Month di bulan Mei 2011 ini. Sekaligus memarakkan perilisan single terbarunya ‘Nobody’s Perfect’ yang asyiknya minta ampun! Hell yeah, no one can do it like a dude except this J-J-J-J Jessie J!

Who You Are (2010)
 Klik disini

Adele

Rasanya sangat mengharukan ketika melihat Jessie J melakukan standing ovation untuk Adele setelah dia menyanyikan track Someone Like You di perhelatan BRIT Awards 2011. Selain penampilannya yang memang memukau, hal ini juga menjadi semacam penegasan, bahwa Adele tahun ini didukung oleh banyak pihak termasuk dewi fortuna untuk kesuksesan album 21.
Jessie J, bersama Leona Lewis merupakan teman sekelas Adele di The BRIT School of Performing Arts & Technology. Disinilah dia mengasah bakat, serta untuk pertama kali dia terobsesi dengan vokalnya yang memang membius. Walaupun memiliki kebiasaan buruk yaitu sering telat masuk kelas, tetapi seluruh rekan sekelas memuji suaranya. Setiap rehearsal untuk tugas sekolah selalu dinantikan ketika Adele akan menghadirkan suaranya.
Berbekal 3 lagu yang direkam dan diposting di MySpace, pihak XL records kemudian mengontaknya. Adele sendiri awalnya tidak terlalu mempercayai tawaran tersebut. Tetapi berkat Nick Hugget dari XL Records yang menyarankan Jonathan Dickins sebagai manager, dia akhirnya bergabung dalam September Management dan memulai sesi rekaman. Disinilah dadu kehidupan Adele mulai bergulir.
Tidak banyak solois wanita yang berjaya di chart lagu di Inggris Raya, tapi bisa jadi kehadiran Amy Winehouse setahun sebelumnya menjadi mempermudah orang menikmati musik sederhana namun penuh emosi seperti yang dibawakan oleh Adele. Album 19 debut di posisi 1 di tahun 2008 serta mendapatkan 4 platinum di Inggris. Ekspansinya ke Amerika dimulai pada tahun itu juga, namun kurang berhasil. Setelah dia tampil dalam acara Saturday Night Live yang menghadirkan Sarah Palin di penghujung tahun 2008, barulah seluruh Amerika, tepatnya 17 juta penonton berhasil dihipnotis ketika dia membawakan Chasing Pavements dan Cold Shoulder.
Tahun 2009 merupakan tahun tersibuk dan tahun yang tidak akan terlupakan oleh Adele. Selain menerima 2 penghargaan dari Grammy Awards sebagai Best New Artist dan Best Female Pop Vocal Performance. Di ajang BRIT Awards, Adele juga mendapat 3 nominasi yaitu Best British Female, Best British Single dan Best British Breakthrough Act. Dia juga mendapat perhatian khusus dari Perdana Menteri Inggris, tampil di VH1 Divas, sampai konser bersama John Mayer. Tapi yang mengalahkan semua isu tersebut adalah di tahun inilah dia memulai hubungan dengan seseorang yang kelak menjadi amunisi utama album 21 yang rilis 2 tahun kemudian.
Banyak yang bertanya dan menyangsikan, siapakah sebenarnya sang lelaki itu? Lelaki yang mampu membuatnya bernyanyi dengan suara berderap dan penuh dengan emosi serta barisan sakit hati. Sang produser Rolling In The Deep, Paul Epworth masih mengingat sela-sela rekaman tersebut dengan mendengarkan isak tangis Adele pasca berakhirnya hubungan mereka. Itulah sebabnya album ini menjadi sangat personal, penuh dengan emosi, apalagi ketika dia mengetahui sang mantan telah bertunangan dengan wanita lain.
Terlalu banyak drama? Adele berhasil melalui itu semua. Walaupun di beberapa penampilan livenya, Adele masih sempat goyah ketika menanyikan track Someone Like You. Dari performanya di BRIT Award untuk pertama kali, iTunes Festival 2011 dimana dia membuat sing a long yang panjang ketika refrain mengalun, sampai standing ovation yang diterimanya ketika MTV Video Music Award dihelat tahun ini. Tidak semua penyanyi mampu menghadirkan kesederhanaan, kekuatan, dan emosi ketika menghadirkan lagu-lagunya dalam versi live, dan Adele mampu melakukannya.
21 adalah album super! 11 minggu bertahta di UK Album Chart, walaupun tidak di minggu yang berturut-turut menjadikannya salah satu artis yang berhasil membuat album dan singlenya bertahta di posisi yang sama. Hal ini telah lama tidak terjadi setelah The Beatles yang melakukan hal yang sama di tahun 1965. Track Rolling In The Deep pun menjadi single yang paling banyak terjual di Amerika per tanggal 21 Agustus 2011. Bravo! Untuk semua pencapaian dan hamparan emosi yang tidak terbatas ini, Creative Disc bersama Warner Music Indonesia menyatakan Adele sebagai Artist Of The Month bulan September 2011. Dengan 2 album yang direlease berbarengan di Indonesia, “19″ & “21″, kita akan bergalau ria selama sebulan penuh! Cheers!

19 (2008)
 Klik disini


21(2010)
klik disini

Beyonce - 4

Bukannya saya hendak melarang untuk berekspektasi terhadap album ini, tapi apa yang didapat dalam sebuah album berjudul “4″ milik Beyoncé ini adalah memang jauh dari fierness yang boleh didapat dari album sebelumnya. Penekanan terhadap rasa “Beyoncé” dengan porsi yang lebih banyak dibanding rasa “Sasha Fierce” yang membuat rekaman ini beda. Yang pasti, kita masih tetap disuguhkan vokal berkarakter nan powerful, dengan lirik yang menggugah. Dan sajian itu pasti sudah cukup memuaskan.
Banyak yang terjadi sebelum “4″ ini ada. Dimana Beyoncé mengambil cuti setahun dari kegiatan musiknya untuk memaknai hidup dan menikmatinya sebagai sesuatu yang membuatnya merasakan hidup sebagai manusia biasa, berpisah dari manajeman sang ayah, dan mengelola musiknya sendiri. Inilah yang membuat rekaman ini menjadi sangat mandiri. Dengarkan jeritan hatinya lewat ‘I Was Here’ yang sejatinya menggambarkan kesediaannya untuk berdiri di atas kaki sendiri dan tidak membiarkan rasa takut menghalangi.
Inspirasi lainnya yang Beyoncé dapat adalah semangat goyang dari Afrika, yang disebut Tofu Tofu alias bodyshaking yang ditampilkan dalam ‘Run The World (Girls)’ yang sound music-nya membuat kita berasa di Afrika. Beberapa lagu lain yang bisa mengajak kita berdansa adalah ‘Countdown’ dan ‘End Of Time’ yang enggak kalah menggairahkan. Nah, sesi dance ini yang sepertinya minim dan membuat beberapa orang kurang puas dan ingin lebih.
Kesempatan untuk menginsert musik soul, funk, pop, dan R&B dari era 70 dan 80 adalah kualitas lain dari “4″ yang bisa dinikmati di ‘1+1′, ‘I Care’, ‘Love On Top’, dan ‘I Miss You’. Meskipun kewenangan ada di tangan Beyoncé dalam pemilihan lagu di dalam album ini, tetap saja credit harus dilayangkan kepada para produser, pencipta lagu, musisi, dan setiap profesional yang terlibat di dalamnya. Kemampuan untuk memuaskan dahaga Beyoncé dalam aktualisasi diri lewat album ini adalah hasil yang patut diacungi jempol.
Di album sebelumnya, saat kita dibuat bertanya apakah Beyonce akan sanggup membuat sebuah rekaman sebesar ‘Irreplaceable’ dari “B’Day”, ternyata ada ‘Single Ladies’ dari “I Am…Sasha Fierce” yang sanggup menjadi jawaban untuk pertanyaan itu. Dan kembali, pertanyaan tersebut akan terlontar. Menyikapinya, Beyoncé punya pernyataan tersendiri. Bahwa dirinya tidak harus membuktikan apa-apa kepada siapapun. Dan itu yang membuat dirinya merasa bebas untuk berekspresi dalam album ini. Tapi, 2 hit besar tersebut bukan tercipta dari single pertama di masing-masing album, sehingga masih terbuka kemungkinan kalau “4″ juga akan punya massive hit sendiri. If I was the one to pick, aku akan pilih ‘I Was Here’ balada indah ciptaan Diane Warren yang luar biasa!
Kenikmatan lainnya yang dapat dinikmati adalah ‘Party’ yang dibawakan bersama Andre 3000 & Kanye West. Bukan salah satu favorit, tapi paling enggak keberadaan rap di dalam album ini dibutuhkan untuk menyirnakan rasa bete yang kemungkinan bisa tercipta setelah mendengarkan 4 track pertama yang adalah lagu-lagu slow. Juga ‘Best Thing I Never Had’ yang membuat kita membuka mata untuk enggak terlalu menyesali sebuah perpisahan. Beyoncé punya kata-kata yang enggak biasa untuk membuat kita percaya kalau satu pintu tertutup, pintu lainnya akan terbuka. “you showed your ass, and baby I saw the real you”
Enggak usah ragu untuk mengoleksi album ini. Rilisan Sony Music Indonesia adalah deluxe edition 2cd yang juga berisi track ‘Lay Up Under Me’, ‘Schoolin’ Life’, ‘Dance For You’ ditambah dengan bonus sample parfum HEAT milik Beyoncé. Meskipun awalnya adalah sebuah kompromi, album ini akan cukup memuaskan. Dan jikalau masih ada yang merasa ganjal, mengingat kebiasaan Beyoncé yang merilis ulang album dalam edisi-edisi lain, masih ada kemungkinan untuk “4″ memuaskan selera kita!

Yang mau download album'y klik disini

The Wanted

Perkenalkan boyband yang mulai menapaki dominasi televisi, radio, dan juga internet, juga mulai menjadi pujaan hati kaum hawa. The Wanted! Boyband pop yang terdiri dari cowok-cowok supercute asal Inggris dan Irlandia yang udah punya lagu nomor 1 di Inggris, ‘All Time Low’ yang adalah debut mereka. Boyband ini adalah hasil audisi besar-besaran di tahun 2009 oleh Jayne Collins, orang yang sudah mengantarkan sukses ke tangan cewek-cewek The Saturdays. Nah, dari tangan yang berpengalaman itu, terjaringlah Jay McGuiness, Nathan Sykes, Siva Kaneswaran, Max George, dan Tom Parker. Usia mereka dalam rentang 18 hingga 22 tahun, pas banget sebagai idola cewek-cewek belia. Masing-masing sudah punya latar belakang seni. Enggak hanya nyanyi, tapi juga nari, modelling, dan akting.
Makanya, saat karya mereka dilempar ke pasaran, langsung aja diserbu para penikmat musik hingga menjadikan debut single ‘All Time Low’ menjadi lagu nomor 1 di UK. Kemiripan lagu tersebut dengan hit milik Coldplay membuat kita enggak kesusahan dalam menikmati lagunya. Dan ketika single keduanya ‘Heart Vacancy’ dirilis, wabah histeria The Wanted semakin meluas. Ada cerita di balik single ini, dimana sang pencipta lagu mengarangnya untuk dinyanyikan oleh Leona Lewis. Tapi sang juara X Factor itu menolak, menyebabkannya berpindah tangan ke 4 orang artis lain hingga akhirnya nyampe ke tangan The Wanted dan dijadikan sebagai single kedua mereka. It’s a great ballad which showcase their true ability in singing as a group. And it turned out to be perfect!
Geffen Records merilis album perdana mereka yang berjudul “The Wanted” dengan menyanyikan lagu-lagu dari para penulis handal dan produser ngetop. Kayak Steve Mac, Wayne Hector, Guy Chambers, Jonas Jeberg, dan masih banyak lagi. Juga termasuk Rami Yacoub, yang ada di belakang layar untuk single ‘Lose My Mind’. Single ketiga mereka ini enggak kalah impressive dibanding 2 single sebelumnya. Lagu ini punya vibe yang mirip hit milik Kings Of Leon, ‘Use Somebody’. Kegilaan di video klipnya dan sound rock yang digabungkan di dalam musiknya. Tepat sekali menyematkan nama boyband jempolan masa kini kepada The Wanted. Apalagi dalam usia bermusik mereka yang masih muda, 4Music Awards dan Celebritain Awards sudah mereka raih, berikut unggulan di ajang Brit Awards dan Virgin Media Music Awards. Pilihan New Artist Highlight Mei 2011 ini memang enggak salah. Mari mabuk kepayang selama sebulan penuh menikmati The Wanted…

Album downloads:
The Wanted (2010)
 Klik disini

Battleground (2011)
Klik disini

LMFAO

LMFAO adalah duo DJs Redfoo (Stefan Kendal Gordy) dan SkyBlu (Skyler Husten Gordy) dan Sorry for Party Rocking adalah album kedua mereka, setelah melakukan debut ditahun 2009 dengan Party Rock. Ditengah skena rapper yang mengkolaborasikan musik mereka dengan nuansa dance-house-dubstep-electro-pop, maka menyeliplah nama LMFAO. Kesuksesan single Party Rock Anthem mungkin adalah pembuktiannya.
Sorry for Party Rocking sendiri seolah sebuah kompilasi anthem dansa yang riuh dan seolah tak kenal lelah untuk menggempur telinga dengan dentuman drum dan bass serta sound-sound olahan mesin. Selintas, musik yang diperdengarkan oleh LMFAO tak jauh berbeda dengan apa yang dibawakan oleh Black Eyed Peas, Flo Rida, Pitbull atau yang terbaru, The Cataracs misalnya. Namun tentu saja LMFAO memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan mereka dengan nama-nama tersebut.
Dibuka dengan Rock The Beat II, yang seolah sebuah prolog menuju keriuhan, yang langsung diganjar dengan tetabuhan Sorry for Party Rocking. Seolah tanpa jeda, album ini akan menyeret kita dalam arus pesta tak berkesudahan mereka. Ini bisa menjadi bumerang sendiri sebenarnya, karena album kemudian terkesan monoton, karena menampilkan materi yang setipe antara satu dengan yang lainnya. Apalagi tema utama yang diusung dalam album ini berkisar antara berpesta, minum-minum, berpesta, minum-minum, berpesta, errrr…yah seperti itulah.
Meski begitu, dengan hadirnya track seperti All Night Long yang hadir dengan tempo medium cukup menjadikan sebuah jeda yang patut dihargai, seolah LMFAO mengajak kita untuk sedikit cooling down setelah menghentak-hentakkan tubuh dengan penuh tenaga. Kehadiran vokal Lisa cukup mampu memberikan kesan “adem” tadi. Nah, kehadiran musisi-musisi tamu merupakan langkah yang tepat, karena jujur saja, jika hanya mengandalkan vokal duo LMFAO saja, album ini akan terasa “kering”, sehingga patut disyukuri kehadiran Busta Rhymes dalam Take It to The Hole atau Will.I.Am dalam Best Night, karena mampu memberikan asupan kesegaran dalam materi album secara keseluruhan.
Nyaris dalam setiap kesempatan auto-tunes hadir memoles vokal yang terdapat dalam setiap track dalam album ini. Efeknya, album yang sudah steril karena bebunyian mesin yang ekstensif, semakin terdengar tidak organik saja. Namun, secara keseluruhan, Sorry for Party Rocking tampaknya bukanlah album yang bertujuan semata-mata mengejar estetika bermusik, karena toh LMFAO hanya mengejar sensasi fun dan entertaining dalam album ini. Dan kalaulah memang itu tujuannya, bisalah disebut mereka berhasil untuk itu.
Jika disebutkan Sorry for Party Rocking bukan album untuk semua orang, mungkin akan terdengar pretensius. Akan tetapi tidak semua orang tampaknya akan dapat menyukai album ini. Meski dipenuhi dengan anthem dansa yang seru, akan tetapi Sorry for Party Rocking memang sebuah album yang tersegmentasi. Sangat tepat kalauanda adalah seorang party-animal, karena mungkin album ini akan menjadi teman pesta yang dapat diandalkan.

source: creativedics.com

album download:
klik disini (via indowebster)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons