Lady Gaga
“Sometimes in life you don't always feel like a winner, but that doesn't mean you're not a winner, you want to be like yourself. I want my fans to know it's okay, I'm beautiful in my way, 'cause God makes no mistakes. I'm on the right track, baby. I was Born This Way.”
Music Quote
"Music expresses that which cannot be said and on which it is impossible to be silent." - Victor Hugo (1802-1885)
Simple Plan
Album baru Simple Plan yang berjudul "Get Your Heart On merupakan album ke-4 dari Simple Plan, dan dialbum ini musik yang diberikan menjadi semakin 'dewasa' dari album-album sebelumnya. Lagu yang berjudul 'Astronaut' menurut gw merupakan salah satu 'pendewasaan' musik Simple Plan.
Senin, 21 November 2011
Jessie J
Hell yeah, people talked about her alot even before her very first single had been released.
Media menamainya Sound of 2011. Penghargaan musik menganugerahinya
Critics’ Choice Award. Dan kemudian, setiap orang merasa ingin kenal
dengan cewek yang satu ini. Beruntungnya kamu yang langganan berkunjung
ke CreativeDisc.Com, karena bulan Mei ini kami akan menggriring kalian
semua untuk lebih akrab dengan penyanyi yang dimaksud. Dialah Jessie
Ellen Cornish, alias Jessie J.
Di masa-masa sekarang, saat sajian musik tak hanya berupa suara yang
menggugah dan musik yang super catchy, tapi tampilan yang stand out juga
menjadi penunjang popularitas, maka artis-artis pendatang baru punya
tantangan ekstra dalam persaingan musik yang sengit saat ini. Jessie J
menjawab tantangan zaman tadi dengan membuat debutnya di industri
rekaman, setelah sebelumnya merasa matang dengan persiapan yang
dilakukannya selama masa remaja bergabung dengan sebuah grup vokal,
menjadi penyanyi latar untuk Cyndi Lauper, hingga menjadi penulis lagu
untuk artis lain seperti Chris Brown dan Miley Cyrus. Tapi jangan kita
jalannya dalam hidup ini begitu mulusnya, karena Jessie juga pernah
mengalami hal-hal buruk, seperti serangan stroke ringan saat berusia 18
tahun, juga perusahaan rekaman yang menontraknya, Gut Records mengalami
kebankrutan sehingga impiannya menjadi artis rekaman terpaksa tertunda.
Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Dan Jessie mengambil hikmah
tersebut sebagai persiapan fisik dan mental untuk debut albumnya “Who
You Are”, yang selama 6 tahun belakangan adalah fokus utamanya dalam
hidup.
Senyumnya boleh terkembang saat di penghujung tahun 2010 kemarin
single perdananya rilis di Inggris. ‘Do It Like A Dude’ menyuarakan
pemberdayaan perempuan, tersaji dalam tampilan apik di musik, kuat di
vokal, dan unik di tampilan video. Ini adalah peluncur karir yang
meroket di negeri sendiri, sekaligus penakar antusiasme pasar terhadap
musiknya. Makanya, saat single ‘Price Tag’ yang menampilkan rapper B.o.B
diluncurkan, dunia siap menyambutnya, dan kesuksesan besar Jessie J pun
dimulai. Single ini mengajak kita untuk enggak terlalu serius dalam
menanggapi segala hal dan mengajak untuk sejenak bersenang-senang tanpa
pamrih. Semangat positif dalam lagu-lagu Jessie secara maksimal bisa
kita nikmati di debut albumnya. Mungkin itu yang membuat para music
director film suka dengan karyanya dan memasukkan lagu-lagu Jessie ke
dalam film mereka. ‘Who You Are’ ada di film “Step Up 3D” dan ‘Sexy
Silk’ di film “Easy A”. Semua keranjingan Jessie J.
BBC menobatkannya sebagai Sound Of 2011, BRIT Awards untuk Critics’
Choice tahun 2011 dimenangkannya, dan MTV Brand New 2011 memposisikannya
di nomor 2 untuk Next Big Thing, dan kita tentu enggak mau ketinggalan
dengan menobatkannya sebagai Artist of The Month di bulan Mei 2011 ini.
Sekaligus memarakkan perilisan single terbarunya ‘Nobody’s Perfect’ yang
asyiknya minta ampun! Hell yeah, no one can do it like a dude except this J-J-J-J Jessie J!
Adele
Rasanya sangat mengharukan ketika melihat Jessie J melakukan standing ovation untuk Adele
setelah dia menyanyikan track Someone Like You di perhelatan BRIT
Awards 2011. Selain penampilannya yang memang memukau, hal ini juga
menjadi semacam penegasan, bahwa Adele tahun ini didukung oleh banyak
pihak termasuk dewi fortuna untuk kesuksesan album 21.
Jessie J, bersama Leona Lewis merupakan teman sekelas Adele di The
BRIT School of Performing Arts & Technology. Disinilah dia mengasah
bakat, serta untuk pertama kali dia terobsesi dengan vokalnya yang
memang membius. Walaupun memiliki kebiasaan buruk yaitu sering telat
masuk kelas, tetapi seluruh rekan sekelas memuji suaranya. Setiap
rehearsal untuk tugas sekolah selalu dinantikan ketika Adele akan
menghadirkan suaranya.
Berbekal 3 lagu yang direkam dan diposting di MySpace, pihak XL
records kemudian mengontaknya. Adele sendiri awalnya tidak terlalu
mempercayai tawaran tersebut. Tetapi berkat Nick Hugget dari XL Records
yang menyarankan Jonathan Dickins sebagai manager, dia akhirnya
bergabung dalam September Management dan memulai sesi rekaman. Disinilah
dadu kehidupan Adele mulai bergulir.
Tidak banyak solois wanita yang berjaya di chart lagu di Inggris
Raya, tapi bisa jadi kehadiran Amy Winehouse setahun sebelumnya menjadi
mempermudah orang menikmati musik sederhana namun penuh emosi seperti
yang dibawakan oleh Adele. Album 19 debut di posisi 1 di tahun 2008
serta mendapatkan 4 platinum di Inggris. Ekspansinya ke Amerika dimulai
pada tahun itu juga, namun kurang berhasil. Setelah dia tampil dalam
acara Saturday Night Live yang menghadirkan Sarah Palin di penghujung
tahun 2008, barulah seluruh Amerika, tepatnya 17 juta penonton berhasil
dihipnotis ketika dia membawakan Chasing Pavements dan Cold Shoulder.
Tahun 2009 merupakan tahun tersibuk dan tahun yang tidak akan
terlupakan oleh Adele. Selain menerima 2 penghargaan dari Grammy Awards
sebagai Best New Artist dan Best Female Pop Vocal Performance. Di ajang
BRIT Awards, Adele juga mendapat 3 nominasi yaitu Best British Female,
Best British Single dan Best British Breakthrough Act. Dia juga mendapat
perhatian khusus dari Perdana Menteri Inggris, tampil di VH1 Divas,
sampai konser bersama John Mayer. Tapi yang mengalahkan semua isu
tersebut adalah di tahun inilah dia memulai hubungan dengan seseorang
yang kelak menjadi amunisi utama album 21 yang rilis 2 tahun kemudian.
Banyak yang bertanya dan menyangsikan, siapakah sebenarnya sang
lelaki itu? Lelaki yang mampu membuatnya bernyanyi dengan suara berderap
dan penuh dengan emosi serta barisan sakit hati. Sang produser Rolling
In The Deep, Paul Epworth masih mengingat sela-sela rekaman tersebut
dengan mendengarkan isak tangis Adele pasca berakhirnya hubungan mereka.
Itulah sebabnya album ini menjadi sangat personal, penuh dengan emosi,
apalagi ketika dia mengetahui sang mantan telah bertunangan dengan
wanita lain.
Terlalu banyak drama? Adele berhasil melalui itu semua. Walaupun di
beberapa penampilan livenya, Adele masih sempat goyah ketika menanyikan
track Someone Like You. Dari performanya di BRIT Award untuk pertama
kali, iTunes Festival 2011 dimana dia membuat sing a long yang panjang
ketika refrain mengalun, sampai standing ovation yang diterimanya ketika
MTV Video Music Award dihelat tahun ini. Tidak semua penyanyi mampu
menghadirkan kesederhanaan, kekuatan, dan emosi ketika menghadirkan
lagu-lagunya dalam versi live, dan Adele mampu melakukannya.
21 adalah album super! 11 minggu bertahta di UK Album Chart, walaupun
tidak di minggu yang berturut-turut menjadikannya salah satu artis yang
berhasil membuat album dan singlenya bertahta di posisi yang sama. Hal
ini telah lama tidak terjadi setelah The Beatles yang melakukan hal yang
sama di tahun 1965. Track Rolling In The Deep pun menjadi single yang
paling banyak terjual di Amerika per tanggal 21 Agustus 2011. Bravo!
Untuk semua pencapaian dan hamparan emosi yang tidak terbatas ini,
Creative Disc bersama Warner Music Indonesia menyatakan Adele sebagai Artist Of The Month
bulan September 2011. Dengan 2 album yang direlease berbarengan di
Indonesia, “19″ & “21″, kita akan bergalau ria selama sebulan penuh!
Cheers!
Beyonce - 4
Bukannya saya hendak melarang untuk berekspektasi terhadap album ini,
tapi apa yang didapat dalam sebuah album berjudul “4″ milik Beyoncé
ini adalah memang jauh dari fierness yang boleh didapat dari album
sebelumnya. Penekanan terhadap rasa “Beyoncé” dengan porsi yang lebih
banyak dibanding rasa “Sasha Fierce” yang membuat rekaman ini beda. Yang
pasti, kita masih tetap disuguhkan vokal berkarakter nan powerful,
dengan lirik yang menggugah. Dan sajian itu pasti sudah cukup memuaskan.
Banyak yang terjadi sebelum “4″ ini ada. Dimana Beyoncé mengambil
cuti setahun dari kegiatan musiknya untuk memaknai hidup dan
menikmatinya sebagai sesuatu yang membuatnya merasakan hidup sebagai
manusia biasa, berpisah dari manajeman sang ayah, dan mengelola musiknya
sendiri. Inilah yang membuat rekaman ini menjadi sangat mandiri.
Dengarkan jeritan hatinya lewat ‘I Was Here’ yang sejatinya
menggambarkan kesediaannya untuk berdiri di atas kaki sendiri dan tidak
membiarkan rasa takut menghalangi.
Inspirasi lainnya yang Beyoncé dapat adalah semangat goyang dari Afrika, yang disebut Tofu Tofu alias bodyshaking
yang ditampilkan dalam ‘Run The World (Girls)’ yang sound music-nya
membuat kita berasa di Afrika. Beberapa lagu lain yang bisa mengajak
kita berdansa adalah ‘Countdown’ dan ‘End Of Time’ yang enggak kalah
menggairahkan. Nah, sesi dance ini yang sepertinya minim dan membuat
beberapa orang kurang puas dan ingin lebih.
Kesempatan untuk menginsert musik soul, funk, pop, dan R&B dari
era 70 dan 80 adalah kualitas lain dari “4″ yang bisa dinikmati di
‘1+1′, ‘I Care’, ‘Love On Top’, dan ‘I Miss You’. Meskipun kewenangan
ada di tangan Beyoncé dalam pemilihan lagu di dalam album ini, tetap
saja credit harus dilayangkan kepada para produser, pencipta lagu,
musisi, dan setiap profesional yang terlibat di dalamnya. Kemampuan
untuk memuaskan dahaga Beyoncé dalam aktualisasi diri lewat album ini
adalah hasil yang patut diacungi jempol.
Di album sebelumnya, saat kita dibuat bertanya apakah Beyonce akan
sanggup membuat sebuah rekaman sebesar ‘Irreplaceable’ dari “B’Day”,
ternyata ada ‘Single Ladies’ dari “I Am…Sasha Fierce” yang sanggup
menjadi jawaban untuk pertanyaan itu. Dan kembali, pertanyaan tersebut
akan terlontar. Menyikapinya, Beyoncé punya pernyataan tersendiri. Bahwa
dirinya tidak harus membuktikan apa-apa kepada siapapun. Dan itu yang
membuat dirinya merasa bebas untuk berekspresi dalam album ini. Tapi, 2
hit besar tersebut bukan tercipta dari single pertama di masing-masing
album, sehingga masih terbuka kemungkinan kalau “4″ juga akan punya
massive hit sendiri. If I was the one to pick, aku akan pilih ‘I Was Here’ balada indah ciptaan Diane Warren yang luar biasa!
Kenikmatan lainnya yang dapat dinikmati adalah ‘Party’ yang dibawakan
bersama Andre 3000 & Kanye West. Bukan salah satu favorit, tapi
paling enggak keberadaan rap di dalam album ini dibutuhkan untuk
menyirnakan rasa bete yang kemungkinan bisa tercipta setelah
mendengarkan 4 track pertama yang adalah lagu-lagu slow. Juga ‘Best
Thing I Never Had’ yang membuat kita membuka mata untuk enggak terlalu
menyesali sebuah perpisahan. Beyoncé punya kata-kata yang enggak biasa
untuk membuat kita percaya kalau satu pintu tertutup, pintu lainnya akan
terbuka. “you showed your ass, and baby I saw the real you”
Enggak usah ragu untuk mengoleksi album ini. Rilisan Sony Music
Indonesia adalah deluxe edition 2cd yang juga berisi track ‘Lay Up Under
Me’, ‘Schoolin’ Life’, ‘Dance For You’ ditambah dengan bonus sample
parfum HEAT milik Beyoncé. Meskipun awalnya adalah sebuah kompromi,
album ini akan cukup memuaskan. Dan jikalau masih ada yang merasa
ganjal, mengingat kebiasaan Beyoncé yang merilis ulang album dalam
edisi-edisi lain, masih ada kemungkinan untuk “4″ memuaskan selera kita!
Yang mau download album'y klik disini
The Wanted
Perkenalkan boyband yang mulai menapaki dominasi televisi, radio, dan juga internet, juga mulai menjadi pujaan hati kaum hawa. The Wanted!
Boyband pop yang terdiri dari cowok-cowok supercute asal Inggris dan
Irlandia yang udah punya lagu nomor 1 di Inggris, ‘All Time Low’ yang
adalah debut mereka. Boyband ini adalah hasil audisi besar-besaran di
tahun 2009 oleh Jayne Collins, orang yang sudah mengantarkan sukses ke
tangan cewek-cewek The Saturdays. Nah, dari tangan yang berpengalaman
itu, terjaringlah Jay McGuiness, Nathan Sykes, Siva Kaneswaran, Max
George, dan Tom Parker. Usia mereka dalam rentang 18 hingga 22 tahun,
pas banget sebagai idola cewek-cewek belia. Masing-masing sudah punya
latar belakang seni. Enggak hanya nyanyi, tapi juga nari, modelling, dan
akting.
Makanya, saat karya mereka dilempar ke pasaran, langsung aja diserbu
para penikmat musik hingga menjadikan debut single ‘All Time Low’
menjadi lagu nomor 1 di UK. Kemiripan lagu tersebut dengan hit milik
Coldplay membuat kita enggak kesusahan dalam menikmati lagunya. Dan
ketika single keduanya ‘Heart Vacancy’ dirilis, wabah histeria The
Wanted semakin meluas. Ada cerita di balik single ini, dimana sang
pencipta lagu mengarangnya untuk dinyanyikan oleh Leona Lewis. Tapi sang
juara X Factor itu menolak, menyebabkannya berpindah tangan ke 4 orang
artis lain hingga akhirnya nyampe ke tangan The Wanted dan dijadikan
sebagai single kedua mereka. It’s a great ballad which showcase their
true ability in singing as a group. And it turned out to be perfect!
Geffen Records merilis album perdana mereka yang berjudul “The
Wanted” dengan menyanyikan lagu-lagu dari para penulis handal dan
produser ngetop. Kayak Steve Mac, Wayne Hector, Guy Chambers, Jonas
Jeberg, dan masih banyak lagi. Juga termasuk Rami Yacoub, yang ada di
belakang layar untuk single ‘Lose My Mind’. Single ketiga mereka ini
enggak kalah impressive dibanding 2 single sebelumnya. Lagu ini punya
vibe yang mirip hit milik Kings Of Leon, ‘Use Somebody’. Kegilaan di
video klipnya dan sound rock yang digabungkan di dalam musiknya. Tepat
sekali menyematkan nama boyband jempolan masa kini kepada The Wanted.
Apalagi dalam usia bermusik mereka yang masih muda, 4Music Awards dan
Celebritain Awards sudah mereka raih, berikut unggulan di ajang Brit
Awards dan Virgin Media Music Awards. Pilihan New Artist Highlight Mei
2011 ini memang enggak salah. Mari mabuk kepayang selama sebulan penuh
menikmati The Wanted…
Album downloads:
The Wanted (2010)
Klik disini
Battleground (2011)
Klik disini
LMFAO
LMFAO adalah duo DJs Redfoo (Stefan Kendal Gordy) dan SkyBlu (Skyler Husten Gordy) dan Sorry for Party Rocking
adalah album kedua mereka, setelah melakukan debut ditahun 2009 dengan
Party Rock. Ditengah skena rapper yang mengkolaborasikan musik mereka
dengan nuansa dance-house-dubstep-electro-pop, maka menyeliplah nama
LMFAO. Kesuksesan single Party Rock Anthem mungkin adalah pembuktiannya.
Sorry for Party Rocking sendiri seolah sebuah kompilasi anthem dansa
yang riuh dan seolah tak kenal lelah untuk menggempur telinga dengan
dentuman drum dan bass serta sound-sound olahan mesin. Selintas, musik
yang diperdengarkan oleh LMFAO tak jauh berbeda dengan apa yang
dibawakan oleh Black Eyed Peas, Flo Rida, Pitbull atau yang terbaru, The
Cataracs misalnya. Namun tentu saja LMFAO memiliki ciri khas tersendiri
yang membedakan mereka dengan nama-nama tersebut.
Dibuka dengan Rock The Beat II, yang seolah sebuah prolog menuju
keriuhan, yang langsung diganjar dengan tetabuhan Sorry for Party
Rocking. Seolah tanpa jeda, album ini akan menyeret kita dalam arus
pesta tak berkesudahan mereka. Ini bisa menjadi bumerang sendiri
sebenarnya, karena album kemudian terkesan monoton, karena menampilkan
materi yang setipe antara satu dengan yang lainnya. Apalagi tema utama
yang diusung dalam album ini berkisar antara berpesta, minum-minum,
berpesta, minum-minum, berpesta, errrr…yah seperti itulah.
Meski begitu, dengan hadirnya track seperti All Night Long yang hadir
dengan tempo medium cukup menjadikan sebuah jeda yang patut dihargai,
seolah LMFAO mengajak kita untuk sedikit cooling down setelah
menghentak-hentakkan tubuh dengan penuh tenaga. Kehadiran vokal Lisa
cukup mampu memberikan kesan “adem” tadi. Nah, kehadiran musisi-musisi
tamu merupakan langkah yang tepat, karena jujur saja, jika hanya
mengandalkan vokal duo LMFAO saja, album ini akan terasa “kering”,
sehingga patut disyukuri kehadiran Busta Rhymes dalam Take It to The
Hole atau Will.I.Am dalam Best Night, karena mampu memberikan asupan
kesegaran dalam materi album secara keseluruhan.
Nyaris dalam setiap kesempatan auto-tunes hadir memoles vokal yang
terdapat dalam setiap track dalam album ini. Efeknya, album yang sudah
steril karena bebunyian mesin yang ekstensif, semakin terdengar tidak
organik saja. Namun, secara keseluruhan, Sorry for Party Rocking
tampaknya bukanlah album yang bertujuan semata-mata mengejar estetika
bermusik, karena toh LMFAO hanya mengejar sensasi fun dan entertaining dalam album ini. Dan kalaulah memang itu tujuannya, bisalah disebut mereka berhasil untuk itu.
Jika disebutkan Sorry for Party Rocking bukan album untuk semua
orang, mungkin akan terdengar pretensius. Akan tetapi tidak semua orang
tampaknya akan dapat menyukai album ini. Meski dipenuhi dengan anthem
dansa yang seru, akan tetapi Sorry for Party Rocking memang sebuah album
yang tersegmentasi. Sangat tepat kalauanda adalah seorang party-animal,
karena mungkin album ini akan menjadi teman pesta yang dapat
diandalkan.
source: creativedics.com
album download:
klik disini (via indowebster)


11.36
ican









